Qurban Ekspedisi
oleh Tarmizi Ashidiq, Ketua Daarul Qur'an
Tahun ini, Program QUIS (Qurban Istimewa) Daarul Qur’an, mengusung tema Qurban Ekspedisi.
Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, ekspedisi berarti: pengiriman surat, barang, dan sebagainya;  perusahaan pengangkutan barang; salinan yang sama bunyinya (tentang vonis atau akta);  perjalanan penyelidikan ilmiah di suatu daerah yang kurang dikenal; pengiriman tentara untuk memerangi (menyerang, menaklukkan) musuh di suatu daerah yang jauh letaknya.

Nah, maksud Qurban Ekspedisi merujuk pada pengertian perjalanan penyelidikan ilmiah di suatu daerah yang kurang dikenal dan pengiriman tentara untuk memerangi (menyerang, menaklukkan) musuh di suatu daerah yang jauh letaknya.

Dengan Qurban Ekspedisi, kita sekaligus memetakan kondisi ummat di pelosok Nusantara. Saat ini, berdasarkan jumlah penerima dana desa, Indonesia memiliki sekitar 75.000 desa. Dari pemberitaan media massa Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mencatat, masih terdapat 26 persen desa yang masuk kategori tertinggal. Lebih dari separuhnya berada di kawasan Timur Indonesia.

Indikator tertinggal adalah desa yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi, mayoritas penduduknya miskin, belum mandiri secara ekonomi pedesaan, lingkungan hidup yang tidak terkelola dengan baik, dan masih kurangnya akses terhadap pelayanan dasar.

Kemudian ekspedisi untuk memerangi musuh, maksudnya memerangi kasus kekurangan atau gizi minim. Terutama asupan protein hewani. Hasil riset Global Nutrition pada 2016 menempatkan Indonesia berada di rangking 108 dunia. Untuk negara di kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya unggul dari Laos di peringkat 124 dan Timor Leste pada posisi 132. Padahal, negara Asia Tenggara lainnya jauh di atas Indonesia. Misalnya Thailand (46) Malaysia (47), Vietnam (55), Brunei (55), Philipina (88) dan Kamboja (95).

Padahal, pemenuhan gizi menentukan kualitas bangsa. Malgizi (kekurangan) adalah penyebab utama kematian bayi dan anak anak. Hal ini berarti berkurangnya kuantitas SDM di masa yang akan datang.Kekurangan gizi juga berakibat meningkatkan angka kesakitan dan menurunnya produktifitas kerja manusia. Hal ini berarti dapat menambah beban pemerintah untuk meningkatkan fasilitas kesehatan. Kekurangan Gizi berakibat menurunnya kecerdasan anak-anak. Hal ini berarti menurunnya kualitas kecerdasan manusia pandai yang dibutuhkan dalam pembangunan bangsa. Kurangnya Gizi berakibat menurunnya daya tahan manusia untuk bekerja, yang berarti menurunnya prestasi dan produktivitas kerja manusia (Budiyanto, 2002).

Mengutip data Badan Litbang Pertanian yang dirilis pada 22 Februari 2017, tingkat partisipasi konsumsi pangan hewani yang tinggi adalah ikan dan telur, diikuti daging unggas terutama ayam ras. Sedangkan partisipasi daging sapi hanya 8,2% saja dari total konsumsi protein masyarakat Indonesia. Dikutip media massa, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengakui bahwa konsumsi daging sapi oleh masyarakat Indonesia saat ini masih sangat rendah. Yakni hingga tahun 2017 konsumsi daging per kapita (orang) hanya 2,9 kilogram setiap tahunnya. Angka itu sangat rendah jika dibandingkan dengan konsumsi daging per kapita di Singapura dan Argentina yang mencapai 55 kg setiap tahunnya, atau bahkan Filipina 7 kg per tahun.

Lebih rendah lagi konsumsi daging kambing, domba, dan kerbau, lantaran faktor kebiasaan dan mitos yang membuat masyarakat ogah memakannya. Tentu juga faktor daya beli yang menurun. Untuk itulah, Qurban Ekspedisi dipersembahkan guna menjangkau sebanyak sebanyak mungkin daerah sasaran dengan sebanyak mungkin daging qurban. Melalui kemudahan seperti sistem tabungan atau cicilan (Kurban Berencana), qurban online baik melalui qurban online maupun aplikasinya, Qurban Ekspedisi mengajak sebanyak mungkin ummat untuk berbagi gizi. Tentu semua layanan tersebut dibarengi dengan usaha-usaha untuk meningkatkan kepuasan pequrban, seperti soal laporan.
Geser kekiri/kanan untuk melihat konten lainnya..
Ekspesidi Gizi Hingga Gaza

Tahun lalu, sebanyak 350 warga Gaza yang umumnya janda dan anak yatim keluarga syuhada, kebagian daging qurban masing-masing 1 kg dari Quis Daarul Qur’an. Para penerima daging bermukim di Jabalia dan Bait Lahiyah Gaza Utara, juga Deir Balah Gaza Selatan. "Gizi qurban tahun ini semakin dibutuhkan warga Gaza", kata perwakilan Daarul Qur’an Indonesia di Gaza, Abdillah Onim.


Memang benar, kondisi Gaza kian memburuk. Sebuah laporan terbaru oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dilansir 11 Juli 2017 mengatakan bahwa kondisi kehidupan di Jalur Gaza telah memburuk dalam 10 tahun sejak wilayah tersebut diblokade oleh Israel. Indikatornya adalah penurunan pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan listrik yang semakin parah. Pengangguran usia produktif mencapai 60%.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa sumber air Gaza yang diprediksi akan “habis” pada tahun 2020, kecuali jika tindakan segera dilakukan. Untuk menyelamatkan Gaza, Robert Piper, Koordinator Bantuan Bantuan Kemanusiaan dan Pembangunan PBB, mengajak kepedulian internasional. “Saya melihat proses mencekik yang luar biasa tidak manusiawi dan tidak adil ini yang secara perlahan dua juta warga sipil di Gaza yang benar-benar menimbulkan ancaman bagi siapa pun,” katanya seperti dikutip Ajazeera (11/7).

Piper menambahkan, masih mungkin untuk menghindari krisis kemanusiaan hanya jika masyarakat internasional bertindak cepat. “Pertama-tama kita perlu memprioritaskan Gaza sedikit lebih tinggi, jika tidak berada di puncak agenda kemanusiaan,” katanya. Robert Vallent, juru bicara Program Pembangunan PBB di Gaza, mengatakan bahwa penduduk Gaza tidak boleh diasingkan ke sebuah kasus kemanusiaan. “Seseorang tidak seharusnya dalam kondisi kelaparan, tetapi mereka berada dalam situasi kritis,” katanya. “Ini adalah situasi politik buatan manusia yang membutuhkan tindakan politik,” tutur Vallent.

Tentu saja, Qurban Ekspedisi juga menyasar penduduk Tanah Air yang paling membutuhkan. Misalnya warga lereng Gunung Sinabung, Kabupaten karo, Sumatera Utara. Hingga saat ini masih banyak warga sana yang berstatus pengungsi, lantaran hampir tiap hari Sinabung erupsi. Bertahun-tahun hidup di penampungan, tanpa tahu kapan erupsi Sinabung akan berakhir, tentu membuat para pengungsi galau. Semoga qurban Anda menjadi penawar hati mereka.

Qurban Ekspedisi tidak melupakan warga muallaf suku adat, seperti di Dusun Fuyu dan Linte, Kabupaten Tojo Una Una, Sulawesi Tengah. Mereka masih sangat miskin baik secara spiritual, budaya, maupun material. Dan tentu, Qurban Ekspedisi diprioritaskan untuk komunitas-komunitas binaan Daarul Qur’an seperti warga Ponpes Tahfidz Quran, Rumah Tahfidz, dan Kampung Qur’an dan sekitarnya.

Salah satunya komunitas Rumah Qur’an Lore Lindu di Desa Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.  Lindu terletak di Taman Nasional Lore Lindu yang sangat sulit diakses. Hanya motor yang bisa menembus lokasi ini. Sebelumnya, warga harus berjalan kaki atau berkuda untuk mendaki trek ke Lindu sejauh 16 km.  Untuk mengirim qurban sapi ke Lindu, tahun lalu panitia setempat harus menuntun sapi berjalan kaki selama empat jam.
Rekening QUIS Pusat (Jakarta)
Bank BCA 603 084 1199
Bank Mandiri 101 000 1010 204
a/n. Yayasan Daarul Qur'an Indonesia
QUIS - Qurban Istimewa | PPPA Daarul Qur'an

Gedung QUIS Daarul Qur'an - Kawasan Bisnis CBD Ciledug | Blok C5 No.3 Jl. HOS Cokroaminoto, Karang Tengah, Kota Tangerang 15157. Telp. ( 021 ) 7300 686 ( Hunting ), Fax. ( 021 ) 7344 4858