Pengantar Quis
oleh Qory Ainul Yaqin
Tahun ini, Program QUIS (Qurban Istimewa) Daarul Qur’an, mengusung tema Qurban Ekspedisi.
Setiap 10 Dzulhijah umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban. Pada hari ini umat Islam sangat-sangat disunnahkan untuk berqurban dengan menyembelih hewan qurban.

"Sungguh Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena tuhanmu dan berqurbanlah. Sungguh orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus" (QS Al Kautsar: 1-3). Tahun ini Qurban Istimewa (Quis) Daarul Qur’an mengusung tema Qurban Ekpedisi. Maksudnya, program qurban dengan berbagai kemudahan layanan yang memungkinkan sebanyak-banyaknya orang berqurban.

Salah satu kemudahan layanan itu adalah tersedianya aplikasi qurban yang bisa diunduh melalui google playstore. Selain itu bagi para member Paytren juga bisa langsung bertransaksi qurban pada aplikasi Paytren.

Seperti tahun-tahun sebelumnya kami melayani pemesanan dengan mudah dan mengantarkan daging hewan qurban para pequrban dengan cepat, sehat, dan highenis. Selain dalam negeri kami juga mendistribusikan hewan Qurban hingga luar negeri seperti Gaza, Palestina dan Afrika.

Daging Qurban juga akan kami distribusikan ke sejumlah pesantren tahfizh, rumah tahfizh, dan rumah Qur’an yang tersebar di Tanah Air.
Geser kekiri / kanan untuk melihat konten selanjutnya..
Pahala Qurban untuk Sekeluarga

Seekor hewan qurban, setidaknya dipersembahkan setiap keluarga muslim di Hari Raya Idul Adha. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Mikhnaf bin Sulaim:

"Wahai manusia, sesungguhnya atas setiap keluarga setiap tahun ada kewajiban menyembelih hewan qurban dan 'atirah, tahukah kalian apa yang dimaksud dengan 'atirah? Itulah yang biasa disebut-sebut oleh orang-orang dengan sebutan Rajabiyah (menyembelih hewan pada bulan Rajab)"
[Shahih Abu Dawud/2487; Shahih Ibnu Majah/3125].


Tentu jika lebih banyak hewan qurban dipotong, lebih baik lagi. "Jika anggota keluarga banyak dan berada dalam satu rumah, maka boleh saja berqurban dengan satu qurban. Akan tetapi jika bisa berqurban lebih dari satu, itu lebih afdhol," demikian penjelasan Fatawa Al Lajnah Ad Daimah (11: 408).

Luar biasa, seekor qurban saja bisa atas nama sekeluarga. Lantas, apakah pahala berqurban juga untuk sekeluarga? Ajaran Islam memang mengenal apa yang disebut sebagai "transfer pahala". Pengertiannya ada dua macam, yaitu : 1. Meniatkan dari sebuah amal yang dikerjakan agar pahalanya untuk orang lain yang dituju; 2. Berdoa agar pahala dari amal tersebut juga dinikmati oleh orang lain. Dalam hal qurban, setiap keluarga muslim sangat dianjurkan untuk melaksanakan qurban walaupun hanya dengan seekor kambing. Namun, pahala qurban ini didapatkan oleh seluruh anggota keluarga, baik yang masih hidup maupun sudah meninggal.

Hal ini ditunjukkan dalam sebuah hadits dari Abu Ayyub ra yang mengatakan, "Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, seseorang (kepala rumahtangga) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya" (HR Tirmidzi, ia menilainya shahih, Minhaajul Muslim, Hal. 264 dan 266).

Masalahnya, siapa saja yang bisa disebut "anggota keluarga" yang menikmati pahala berqurban sebuah keluarga? Nah, dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Pertama, masih dianggap anggota keluarga, jika terpenuhi 3 hal: tinggal bersama, ada hubungan kekerabatan, dan sohibulqurban menanggung nafkah semuanya. Ini pendapat Madzhab Maliki, sebagaimana termaktub dalam Kitab At-Taj wa Iklil (4:364). Pendapat kedua menyatakan, semua orang yang berhak mendapatkan nafkah sohibul qurban adalah anggota keluarga. Ini pendapat hukum ulama mutaakhir (kontemporer) di Madzhab Syafi’i.

Ulama-ulama lain mensyaratkan anggota keluarga tinggal serumah dengan sohibul qurban, meskipun bukan kerabatnya. Ini pendapat sejumlah ulama Syafi’iyah, seperti As-Syarbini, At-Thablawi, dan Ar-Ramli dalam Fatawa Aar-Ramli 4:67. Al-Haitami mengomentari fatwa Ar-Ramli: "Mungkin maksudnya adalah kerabatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Bisa juga yang dimaksud dengan ahlul bait(anggota keluarga) di sini adalah semua orang yang mendapatkan nafkah dari satu orang, meskipun ada orang yang aslinya tidak wajib dinafkahi." Perkataan Sahabat Abu Ayub: "Seorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya" memungkinkan untuk dipahami dengan dua makna tersebut. Bisa juga dipahami sebagaimana zahir hadits, yaitu setiap orang yang tinggal dalam satu rumah, interaksi mereka jadi satu, meskipun tidak ada hubungan kekerabatan. Ini merupakan pendapat sebagian ulama, akan tetapi terlalu jauh dari kebenaran (Tuhfatul Muhtaj, 9:340).

Batasan anggota keluarga yang paling komprehensif adalah batasan yang diberikan ulama Madzhab Maliki, yaitu jika terpenuhi tiga syarat: tinggal bersama, ada hubungan kekerabatan, dan tanggungan nafkah mereka sama dari kepala keluarga. Umumnya para ulama membenarkan dan membolehkan seseorang menyembelih hewan qurban untuk anggota keluarganya yang telah wafat. Dasar kebolehannya dianalogikan pada masalah sedekah dan haji untuk orangtua yang sudah wafat.

Ibnu Abbas ra meriwayatkan, bahwa seorang wanita dari Juhainah datang menemui Nabi SAW dan berkata, "Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya?" Rasulullah SAW menjawab,"Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya utang kamu akan membayarkannya? Bayarkanlah utang kepada Allah karena hutang kepada-Nya lebih berhak untuk dibayarkan" (HR Al-Bukhari). Bahkan jika berqurban sudah dinadzarkan oleh ahli kubur, maka hukumnya menjadi wasiat yang wajib dilaksanakan oleh ahli warisnya. Jangan khawatir, orang Islam yang terpaksa belum berkesempatan berqurban, masih kebagian pahala qurban juga. Dari siapa? Siapa lagi kalau bukan Nabi Muhammad SAW.

Suatu ketika Rasulullah SAW sebelum menyembelih kambing qurbannya, mengatakan, "Ya Allah ini (qurban) dariku dan dari umatku yang tidak berqurban" (HR Abu Daud no 2810 dan Al-Hakim 4:229 dan dishahihkan Syekh Al-Albani dalam Al Irwa’ 4:349). Berdasarkan hadits ini, Syekh Ali bin Hasan Al-Halaby mengatakan, "Kaum muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berqurban dari umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam." (Ahkamul Idain, Hal. 79).
Rekening QUIS Pusat (Jakarta)
Bank BCA 603 084 1199
Bank Mandiri 101 000 1010 204
a/n. Yayasan Daarul Qur'an Indonesia
QUIS - Qurban Istimewa | PPPA Daarul Qur'an

Gedung QUIS Daarul Qur'an - Kawasan Bisnis CBD Ciledug | Blok C5 No.3 Jl. HOS Cokroaminoto, Karang Tengah, Kota Tangerang 15157. Telp. ( 021 ) 7300 686 ( Hunting ), Fax. ( 021 ) 7344 4858